Jakarta — Harga beras medium di sejumlah daerah dilaporkan mengalami kenaikan hingga sekitar 15 persen dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan harga tersebut mendorong pemerintah untuk menyiapkan langkah stabilisasi melalui program operasi pasar guna menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.
Kementerian Perdagangan menyatakan bahwa kenaikan harga beras medium dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya terbatasnya pasokan di tingkat pedagang serta meningkatnya permintaan menjelang periode tertentu dalam beberapa bulan terakhir.
“Pemerintah terus memantau perkembangan harga beras di pasar. Untuk menekan lonjakan harga, kami akan memperluas pelaksanaan operasi pasar di berbagai wilayah,” ujar seorang pejabat Kementerian Perdagangan dalam keterangan resminya, Sabtu (14/3).
Dalam operasi pasar tersebut, pemerintah melalui Perum Bulog akan menyalurkan beras cadangan pemerintah dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan harga pasar. Program ini ditargetkan menyasar pasar tradisional serta wilayah yang mengalami kenaikan harga paling signifikan.
Selain operasi pasar, pemerintah juga memperkuat distribusi beras dari daerah sentra produksi ke wilayah yang mengalami kekurangan pasokan. Langkah ini diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas harga serta mencegah lonjakan harga yang lebih tinggi.
Sementara itu, sejumlah pedagang di pasar tradisional mengakui bahwa harga beras medium memang mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Mereka menyebut harga dari distributor meningkat sehingga berdampak langsung pada harga jual di tingkat konsumen.
“Kami berharap pasokan dari pemerintah bisa segera masuk ke pasar supaya harga bisa kembali stabil,” kata seorang pedagang beras di Jakarta.
Pemerintah menegaskan bahwa stok beras nasional masih dalam kondisi aman. Namun demikian, berbagai langkah stabilisasi akan terus dilakukan untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan harga bahan pangan pokok tersebut bagi masyarakat.